Rabu, 01 Juli 2020

Pertunjukan dari Ruang Domestik


Meskipun sangat tergantung pada akses ke koneksi internet dan faktor sosial ekonomi lainnya, transisi ini telah membuat karya seni lebih mudah tersedia bagi orang-orang dari latar belakang yang berbeda.  Hal ini adalah sebuah aspek revolusi virtual yang positif. 

Namun, tontonan virtual tetap merupakan perubahan bagi seniman yang biasa berhadapan langsung dengan penonton. Mereka biasanya menikmati respon penonton, misalnya tepuk tangan dan tawa.  Penulis naskah drama terkenal Amerika Lauren Gunderson menulis dalam artikelnya "Teater di Masa Pandemi" untuk San Francisco Chronicle. Ia mengatakan, “apa itu permainan jika tidak ada penonton ... Saya menyadari bahwa saya menulis bukan untuk penonton tetapi bersama mereka."  Ini saat yang tepat untuk merenungkan hubungan yang dibangun oleh seni dengan pembaca, penonton, atau pendengar. Apakah seni merupakan bentuk ekspresi belaka, atau cara untuk membangun hubungan dengan manusia?

Meskipun tidak mudah, seniman terus berkarya dari keterbatasan rumah mereka. Menghabiskan lebih banyak waktu di rumah itu juga berarti menghabiskan lebih banyak waktu dengan diri kita sendiri, dengan pikiran kita, keinginan kita dan keprihatinan kita. Inspirasi jelas sulit dicapai ketika mata kita hanya membentur empat dinding ruangan. Namun, banyak yang terjadi di dunia di luar mereka. Ada begitu banyak perubahan, penderitaan. Seniman akan bisa menjelajahi hamparan pikiran mereka dengan kreativitas mereka.

Seniman harus bersemangat untuk menciptakan sesuatu yang berbeda yang bisa muncul dari titik balik bersejarah ini. Karya seni yang dihasilkan dari jantung domestisitas. Karya yang lahir dari apa yang dialami seniman di dalam diri sendiri dan bukan dari komponen eksternal kehidupan mereka.

localspins.com

Hingga Saat ini, produksi artistik tetap menjadi teman dalam situasi yang menggelisahkan ini. Entah itu album baru dari artis favorit Anda, atau film yang menghidupkan keajaiban, seni akan tetap menjadi shelter jiwa di saat-saat sulit. Dan salah satu cara di mana setiap orang dapat berkontribusi, selain sumbangan yang sangat membantu yang membuat organisasi artistik tetap hidup, adalah dengan mengakui dan menghormati  karya kreativitas yang dihasilkan.

 

Disadur dari tulisan Laurisa Sastoque di https://dailynorthwestern.com/

Kamis, 25 Juni 2020

Bertolt Brecht dan Historifikasi


Bertolt Brecht

Peristiwa masa lalu atau dari waktu dan tempat lain yang berjarak dengan penonton masa kini digunakan oleh Brecht. "Pastness" dari peristiwa tersebut harus ditekankan. Penonton harus melihat peristiwa yang dapat mereka identifikasi atau situasi yang terjadi

sesuai dengan situasi mereka.  Mereka harus berpikir itu, jika mereka hidup dalam situasi tersebut, mereka akan berusaha dan mengubahnya. Penonton juga harus memiliki perasaan bahwa perubahan itu mungkin.

Masa lalu harus dijadikan pelajaran agar masyarakat bisa membuat perubahan positif di komunitas mereka.

Penonton juga harus dapat melihat bahwa situasi mereka berbeda sekarang dibandingkan masa lalu. Ini untuk menekankan bahwa perubahan sebenarnya mungkin dan perubahan itu sudah terjadi. Kesalahan yang dibuat dalam produksi karya itu tidak boleh dilakukan oleh para penonton. anggota audiens. Masa lalu harus dijadikan pelajaran agar masyarakat bisa membuat perubahan positif di komunitas mereka.

Mother Courage and Her Children from http://jameskarasreviews.blogspot.com/


Historifikasi juga dapat dilihat sebagai cara untuk menciptakan jarak kritis bagi penonton. Peristiwa-peristiwa “aneh yang sengaja dibuat” kelihatan tidak asing, tetapi ditempatkan di waktu berbeda, adalah cara Brecht mencoba mengurangi reaksi emosional di antara penonton.

Historifikasi adalah istilah yang dapat menyebabkan kebingungan. Hanya karena teksnya menampilkan sesuatu yang terjadi di masa lalu, belum tentu menyiratkan bahwa historifikasi digunakan.(ye)


sumber: EPIC THEATRE AND BRECHT


Senin, 20 April 2020

Penulis Naskah Beradaptasi Terhadap Perubahan Pemanggungan

Vanilla Skype, a theater play written by Romanian TV producer CatalinStefanescu
Teater yang sedang porak poranda tidak menghentikan penulis naskah untuk menulis. Karantina telah membuat mereka lebih kreatif, kata Joe Antoun, pendiri dan direktur artistik Centastage, yang menghasilkan penulis naskah lokal. Antoun juga teah lama menjadi pemimpin Write On!, kelompok penulis naskah. Mereka masih melakukan sharing hingga kini dan masing-masing menunjukkan karya-karya yang sedang mereka kerjakan (on progress).

"Penulis kami telah menjadi produktif," kata Antoun. "Tema-tema yang muncul berfokus pada penyatuan kembali dan soal memaafkan, setidaknya itu adalah cerminan dari yang terjadi di masa karantina ini."

Beberapa juga berusaha melakukan perubahan pada karya-karya yang mereka sudah ciptakan untuk diadaptasi dengan situasi saat ini, sebuah momen yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dramawan John Minigan mengakui bahwa dia kesulitan menghasilkan materi baru. Sebagai gantinya, dia merevisi beberapa karya sehingga bisa dipanggungkan dengan cara baru.

"Beberapa (kelompok) teater meminta saya menuliskan naskah khusus yang bisa  ditampilkan dalam format online," kata Minigan. Sebuah teater di Chicago telah menyajikan Rising Sophomore. Sementara sebuah teater yang berbasis di Texas, akan menyajikan karya tersebut kemudian.

“Saya awalnya menulis Rising Sophomore sebagai sebuah monolog, tetapi sekarang ini adalah menjadi permainan dengan dua karakter,” kata Minigan. “Idenya adalah bahwa sementara di karantina, pelaku intimidasi (bully) memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan kembali tindakannya, dan menjadi akrab dengan korbannya. Mereka terlibat perbincangan bersama dalam situasi itu. ”

Dramawan Greg Lam harus merawat putrinya yang berusia 8 tahun di rumah. Sementara istrinya, seorang geriatric (ahli fisiologi untuk orang jompo) harus bekerja di rumah sakit. Greg Lam memberikan fokus pada lakon-lakon pendek sehingga ia dapat mempertajam segi dramatiknya. Ia juga berpendapat bahwa media baru mendorong penulis naskah dan sutradara untuk menjadi kreatif.


“Saya menulis lakon bertema sci-fi berdurasi10 menit yang diproduksi Boston Theatre Marathon,” kata Lam. Lakon berjudul “Intervensi” itu ditayangkan 20 April 2020 menggunakan aplikasi Zoom. "Saat latihan, sutradara menyarankan untuk meletakkan tisu di depan kamera agar aktor terlihat seperti seseorang yang keluar dari udara tipis. Aktor juga bermain dengan latar belakang Zoom untuk membantu mengatur pemandangan."

Lam juga bekerja sama dengan kelompok teater Liars & Believers untuk membuat animasi untuk salah satu drama pendeknya. Dalam minggu-minggu sejak wabah coronavirus memaksa orang untuk berpisah, situs Liars & Believers dan halaman Facebook telah menjadi “panggung” untuk berbagai macam karya seni.

Jason Slavick,pendiri dan direktur artistik Liars & Believers
“Keadaan ini sangat mengkhawatirkan ketika semuanya ditutup. Kelompok kami banyak melakukan kerja kolaboratif," kata Jason Slavick, pendiri dan direktur artistik Liars & Believers. "Hingga kemudian saya ingat bahwa sebagai seniman, kami memiliki kapasitas sebagai “penyembuh.” Teater memang bukan unsur pertama yang merespon keadaan ini, tetapi kami bisa memberikan sesuatu untuk mendukung mereka yang dengan bijaksana tetap tinggal di rumah dan kami mencoba turut meringankan hidup mereka." (ye)

sumber: By Terry Byrne, https://www.bostonglobe.com;

Sabtu, 28 Maret 2020

Wabah Penyakit dan Proses Kreatif Shakespeare

William Shakespeare

Wabah penyakit menyebar di Inggris pada tahun 1606. Banyaknya kematian akibat wabah itu menyebabkan penutupan gedung-gedung pertunjukan teater. Bencana memberi dampak buruk pada William Shakespeare, tetapi sekaligus memicu perubahan karir profesionalnya. Shakespeare lolos dari wabah yang mengubah dunia teater yang ia geluti.

James Shapiro menuliskan kembali kisah Shakespeare dan wabah di London itu dengan judul How Shakespeare’s great escape from the plague changed theatre. Tulisan itu dimuat di The Guardian terbitan 24 September 2015.

The King's Men, grup teater milik William Shakespeare menurunkan bendera mereka di gedung teater Globe di London. Hal itu dilakukan bersamaan dengan pengelola gedung pertunjukan tempat lakon-lakon Shakespeare biasa dimainkan. Peritiwa itu terjadi menyusul wabah penyakit muncul di Inggris. Dua tahun sebelumnya wabah serupa berjangkit di London dan telah merenggut jiwa lebih dari 30.000 warga London. Oleh karena itu, Dewan Penasihat Kota (DPK) memutuskan bahwa semua bentuk tontonan harus berhenti. Itu adalah keputusan terakhir setelah DPK mendapati jumlah mereka yang meninggal dunia meningkat setiap minggu. Mereka menemukan bahwa korban jiwa berada pada angka "di atas jumlah 30" setiap minggu.

Semula ada kelonggaran berkait keputusan itu. Grup-grup sandiwara sekadang masih melakukan pertunjukan karena alasan kebutuhan nafkah. Pembengkokan aturan itu mereka lakukan ketika wabah kematian merosot di bawah angka 40 setiap minggu. Catatan DPK berkait keadaan masa itu telah hilang dalam kebakaran pada tahun 1618, sehingga kita tidak akan pernah tahu persis pada angka berapa tepatnya yang menjadi penentu penutupan. Tetapi pada akhir Juli 1606, jumlah korban jiwa wabah yang mematikan jauh di atas angka itu dan angka cenderung meningkat dari minggu ke minggu. Akhirnya semua tontonan berhenti, setidaknya selama musim panas.

Gejala-gejala wabah penyakit itu mengerikan: demam, denyut nadi yang berdetak kencang dan sesak napas, rasa sakit di punggung dan kaki, tenggorokan kering dan kehilangan keseimbangan. Bahkan sebagian orang juga menderita “sakit kepala hebat disertai perasaan berat, kecemasan, dan kesedihan”. Buboes – benjolan karena pembengkakan keras kelenjar getah bening - akan muncul di pangkal paha, ketiak atau leher. Jika benjoan itu pecah, maka penderita mengalami rasa sakit yang luar biasa. Kemudian penderita mengalami kesulitan berbicara. Jika keadaan makin parah, maka penderita akan mengigau sebelum ia mengalami gagal jantung pada akhirnya. Para korban berusia 10 hingga 35 tahun.

Wabah penyakit menular pernah menjadi ancaman pada seluruh warga London termasuk Shakespeare. Di sisi lain, bencana ini juga menjadi ruang pertumbuhan kreatif penulis kondang abad ke-16 ini. Peneliti sejarah drama menyebut bahwa wabah itu mengilhami William Shakespeare ketika ia menulis karya mulai dari Romeo dan Juliet hingga Macbeth. Ben Cohen menuliskan sekelumit kisah itu dalam tulisannya berjudul The Infectious Pestilence Did Reign yang dimuat di Slate 10 Maret 2020.

Cohen mengawali tulisannya dengan sebagian kisah kelahiran Shakespeare. Cohen memberitahukan William Shekespeare sendiri lahir saat wabah penyakit menular melanda Inggris tahun 1564. Wabah itu melenyapkan sebagian besar penduduk. Siapa yang hidup dan yang mati tampaknya adalah masalah keberuntungan saat itu. Wabah itu menyerang hingga melenyapkan banyak keluarga. Termasuk sebuah keluarga yang tinggal di jalan bernama Henley Street. Di sana, pasangan muda sudah kehilangan dua anak karena gelombang wabah sebelumnya. Kini, mereka harus menjaga putra mereka yang baru lahir berusia 3 bulan ketika itu. Mereka mengunci pintu dan jendela rapat-rapat untuk mencegah wabah datang menyerang rumah mereka lagi. Mereka belajar dari pengalaman malang mereka sebelumnya bahwa bayi sangat rentan terhadap penyakit mengerikan ini. Hingga keajaiban terjadi, karena saat wabah terjadi kota kecil bernama Stratford-upon-Avon tempat tinggal mereka, bayi mereka selamat.  Akhirnya, pasangan itu menghela napas lega bahwa anak laki-laki mereka masih hidup. Nama anak lelaki itu adalah William Shakespeare.

Apakah sejarah kelahiran Shakespeare yang akrab dengan wabah ini membuat ia bisa mengatasi bencana wabah dalam perjalanan kreatifnya? Ada jawaban bersifat spekulasi atas pertanyaan tersebut. Ada kemungkinan bahwa Shakespeare memiliki kekebalan terhadap wabah karena ia pernah terpapar wabah saat masih bayi. Tetapi yang jelas wabah menjadi senjata rahasia Shakespeare. Dia tidak mengabaikannya. Dia memperoleh kesempatan dari situasi itu.

Hal unik terjadi saat wabah membuat gedung-gedung pertunjukan di London tutup, Keadaan itu memaksa grup teater Shakespeare, The King's Men, untuk berpikir kreatif dalam menciptakan kemasan pertunjukan. The King’s Men melakukan pentas keliling ke daerah-daerah kecil di Inggris. Mereka mencari tempat perhentian di kota-kota kecil yang belum terserang wabah. Pada saat itu juga Shakespeare menemukan banyak waktu yang lebih baik untuk menulis. "Ini berarti hari-harinya bebas, untuk pertama kalinya sejak awal 1590-an, termasuk juga untuk berkolaborasi dengan penulis naskah lain," tulis Shapiro dalam bukunya The Year of Lear: Shakespeare pada 1606.

Wabah dii London
Shakespeare juga melahirkan lakon-lakon Raja Lear, Macbeth, dan Antony dan Cleopatra pada masa sulit itu. Shapiro menyebut karya-karya itu sebagai tiga lakon tragedi yang sangat luar biasa.  Penulis biografi Shakespeare itu juga berkata, “Kita tahu lebih banyak tentang bagaimana wabah (pes) 1606 mengubah kontur kehidupan profesional Shakespeare, merombak dan menghidupkan kembali grup, merubah strategi persaingan (dengan grup lain), mengubah komposisi penonton siapa yang akan jadi target tulisannya (jenis drama apa yang ia harus tulis), dan memungkinkannya untuk berkolaborasi dengan musisi dan penulis naskah yang berbakat lain."

Cohen menambahkan bahwa Shakespeare bukan penulis metronomic (mekanis seperti robot). Dia memiliki keluasan imajinasi. Dia menulis secara mengalir dan hal yang mengalir itu berasal pada kekuatan di luar kendalinya. Shakespeare mampu mengubah periode pergolakan yang hebat dalam masyarakat (wabah) menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda: rentetan kesuksesan yang tak terduga dalam sejarah. (ye)

Senin, 02 September 2019

Seni Teater dan Aksi Sosial


Bagaimana seni mempengaruhi perubahan sosial atau politik? Perbincangan tentang hal itu sudah terjadi beberapa kali di lingkungan seni (teater) di Eropa dan Amerika. Selain itu juga di belahan lain di dunia termasuk Indonesia.

Sumber: https://www.emilyjupp.co.uk/counting-sheep-by-belarus-free-theatre-review/uncategorized/review/

Sejarah pertunjukan teater memiliki catatan panjang menjadikan pertunjukan sebagai bagian dari gerakan para aktifis. Misalnya intervensi jalanan yang dilakukan Bread and Puppet Theatre di Amerika Serikat dan beberapa kelompok lain.  Judy Chicago (penulis dan aktifis feminis) pernah berpendapat bahwa "pertunjukan dapat dipicu oleh kemarahan dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh lukisan atau patung". Segala jenis protes tingkat jalanan, semacam protes pro-demokrasi di Hong Kong, secara efektif merupakan bentuk teater.  Bentuk flash mob juga bisa menjadi upaya untuk membangkitkan kesadaran tentang sesuatu.

Jadi ketika seni dan aktivisme berjalan beriringan, apakah mereka benar-benar mengubah apa pun? Atau bisakah kita benar-benar berharap bahwa pertunjukan teater dengan mengusung nada desakan dan penuh amarah terhadap sebuah situasi bisa mendorong penonton bergegas membentuk barikade dan menggulingkan pemerintah?

Ada banyak teater politik, terutama di Eropa dan Amerika. Tetapi apakah pertunjukan-pertunjukkan semacam itu tidak berarti apa pun selain berkhotbah kepada orang yang “bertobat”? Bagaimana mereka bisa menyampaikan gagasan kritis mereka pada masyarakat yang lebih luas?

Pendiri dan aktivis teater Turki Memet Ali Alabora berpendapat bahwa acara-acara seni tentu saja dapat berkontribusi pada perubahan politik. Dia dan beberapa orang terlibat dalam pementasan drama di Cardiff (Inggris Raya), tempat ia mengasingkan diri. Sebelumnya   pemerintah Turki dan media pro-pemerintah menuduh dia melakukan pementasan bernunasa hasutan dan menjadi "latihan" untuk protes Taman Gezi 2013 di Istanbul.

Aksi itu disebut sebagai gelombang protes terbesar dalam sejarah Turki baru-baru ini. Ratusan ribu turun ke jalan untuk menentang usulan pembongkaran taman dalam kota untuk membuat jalan bagi pusat perbelanjaan bergaya Ottoman. Sebuah proyek yang mendapat dukungan secara pribadi oleh perdana menteri waktu itu (dan presiden saat ini) Recep Tayyip ErdoÄŸan. Buntut aksi itu membuat Alabora mendapat ancaman karena aksinya itu. Seperti halnya Teater

Bahaya seperti itu mungkin tidak ada di Eropa dan Amerika, tetapi jelas ini menunjukkan bahwa seni dan teater masih dapat membuat perbedaan bagi kehidupan orang-orang di tingkat akar rumput. Tetapi apakah mungkin gerakan teater semacam itu bisa terjadi di daerah pinggiran (pedesaan)? Apakah isu-isu yang diusung dalam pertunjukan teater seacam itu hanya dapat menjangkau pikiran mereka yang tinggal di kota-kota besar.

Rhiannon White, dari Common Wealth Theatre (Inggris), berpendapat bahwa seniman yang mengerjakan karya seni bagi masyarakat perlu mengadopsi proyek-proyek yang benar-benar diinginkan masyarakat. Dia percaya seni komunitas tidak akan mengubah apa pun jika itu tidak memiliki efek berkelanjutan memberdayakan masyarakat untuk melanjutkan apa yang telah dimulai.

Direktur artistik Battersea Arts Centre (London, Inggris), David Jubb mengamati bahwa teater “melayani lebih banyak kalangan tertentu dan berisiko menjadi tidak relevan bagi banyak orang. Teater lebih disukai segelintir orang”. Dia mengatakan ini adalah "sangat merugikan seniman dan peran potensial mereka sebagai pembuat perubahan".

Sumber: https://dailybruin.com/2019/04/23/forum-theatre-performance-to-promote-audience-participation-with-social-issues/

Gagasan tentang seniman sebagai pendorong perubahan adalah gagasan bagus sekaligus memiliki daya tarik khusus ketika isu hak azasi manusia semakin dibangkitkan. Tindakan mengumpulkan banyak orang dalam sebuah tonotonan itu manjur, sekaligus berpotensi berbahaya.

Pementasan teater di Royal Court (gedung teater di Inggris), betapapun mengusung nada kemarahan dan ketegangan, mungkin tidak akan membawa perubahan sosial. Sebaliknya para pembuat karya teater tingkat akar rumput mungkin bisa membuat masyarakat bersatu secara sosial, mengakhiri isolasi, menyelesaikan masalah lokal dan mengartikulasikan ambisi mereka. Peristiwa teater yang mereka lakoni menantang budaya dominan dan cara berpikir dan tindakan  yang mapan. Para kreator ini membuktikan bahwa teater dan aktivisme adalah rekan seperjalanan. Teater dan aktvisme lebih kuat bersama daripada terpisah. (ye)


sumber: https://www.theguardian.com/stage/theatreblog/2016/mar/23/theatre-effective-protest-activism-change-debate

Rabu, 24 Juli 2019

Teks dan Pertunjukan Teater

Ilhan Beyazay @flickr.com
Ada dua hal yang bisa dibedakan dalam peristiwa teater, yaitu pertunjukan dan apa yang dipertunjukkan. Kita juga bisa menyebutnya sebagai perbedaan antara produksi dan naskah lakon itu sendiri, misalnya, produksi Hamlet oleh Royal Shakespeare Company (RSC) and naskah lakon Hamlet karya Shakespeare.

Dalam teater, kita biasanya menyebut apa yang dipertunjukkan sebagai "naskah lakon." Istilah ini tidak tepat. Bagaimanapun, dalam hal ini kita juga berbicara tentang “melihat” sebuah naskah lakon. Contohnya  pertunjukan Hamlet oleh RSC. Kita lebih condong mengarah pada pertunjukan (oleh RSC) dari pada teks (naskah lakon karya Shakespeare).

Sebuah buku yang berisi "Kumpulan Drama William Shakespeare" akan menjadi sebuah kumpulan teks, bukan pertunjukan. Ketika kita berbicara tentang melihat pertunjukan, kita berbicara tentang mendengarkan dialog dan melihat serangkaian acting sebagaimana tercatat dalam teks tertentu. Setiap naskah lakon (teks) memiliki elemen-elemen yang dibutuhkan untuk sebuah produksi pementasan naskah lakon bersangkutan. Sehingga jika seseorang tidak menggunakan teks Hamlet (misalnya), orang sama sekali tidak bisa dikatakan menggarap Hamlet. Ini menunjukkan bahwa ketika kita berbicara tentang naskah lakon, yang kita maksudkan adalah teks.

Selanjutnya, ketika kita menghadiri pertunjukan drama, kita tidak mengalami teks tertulis. Sebaliknya, kita melihat aktor mengucapkan barus-baris kalimat dan menampilkan acting yang dijelaskan dalam teks. Kita juga melihat set, lampu, kostum dan beragam acting yang sama sekali tidak dituliskan dalam teks. Jadi, kita seharusnya tidak samakan lakon dengan teks. Sebagai gantinya, mari kita meminjam istilah dari Wolterstorff (1975) dan menunjuk hal yang ditampilkan dalam pertunjukan teater sebagai karya pertunjukan.

Ini penting untuk dicatat bahwa karya pertunjukan adalah hal yang dipertunjukkan; itu semata bukan pertunjukan itu sendiri. Ini mengacu pada dialog dan acting yang telah diciptakan bagi para aktor untuk tampil, beserta dengan elemen-elemen lain seperti karakter dan alur peristiwa. Karya pertunjukan adalah sebuah konsep abstrak, tetapi dialog dan acting biasanya dinotasikan dalam bentuk konkret sebuah naskah lakon (teks).
Photo by Vadim Fomenok on Unsplash

Secara sederhana, kita dapat menganggap naskah lakon sebagai karya penulis naskah, meskipun sekadang naskah (teks) dihasilkan secara kolaborasi atau dengan cara lain. Selain itu, tidak semua pertunjukan teater menggunakan naskah tertulis. Beberapa pertunjukan berangkat dari garis besar plot atau perencanaan lain. Ada beberapa melakukan improvisasi secara langsung berdasarkan unsur-unsur yang tidak banyak. Orang mungkin berpendapat bahwa untuk bentuk seperti itu, tidak ada sesuatu yang dipertunjukkan, kecuali hanya pertunjukan itu sendiri. (ye)

Sumber: The Difficulty of An Ontology of Live Performance by Colin Doty (UCLA)

Selasa, 21 Mei 2019

Gedung Teater dan Jarak Pertunjukan

Sumber: pixabay.com

Pada akhir abad ke-19, arsitektur gedung teater kontemporer mulai memunculkan bentuknya.  Beberapa inovasi tehnis terjadi pada gedung teater yang memiliki dampak luas pada unsur-unsur di dalamnya. Tampilan arsitektur bangunan gedung teater menjadi sesuatu yang menonjol pada pada abad ke-19. Tampilan-tampilan itu di antaranya adalah lampu gas, sistem rail, gantungan lampu dan listrik, dan munculnya panggung datar.

Meskipun  banyak muncul inovasi, konsep arsitektur gedung teater tidak berubah. Panggung model Jaman Baroque masih tetap dominan. Selain arsitektur, berbagai inovasi tehnik membawa perubahan besar dalam teater pada periode ini. Belakangan, auditorium (ruang penonton) seolah tenggelam dalam kegelapan dan terpisah dari ruang adegan.

Seorang pengamat berpendapat bahwa susuanan semacam itu menegaskan bahwa sesuatu yang sakral terletak dalam ruang mental penonton dan bukan pada lingkungan fisik yang ditempati tubuh mereka. Gedung teater seperti mencapai bentuk finalnya sepanjang periode ini. Panggung, auditorium, bingkai panggung, lobi, ruangan-ruangan kecil, bagian administrasi adalah semua elemen yang akan menjadi satu kesatuan sebagaimana kita masih jumpai hingga saat ini.

Charles Rennie Mackintosh menyatakan bahwa tahun 1876 adalah tahun kunci bagi studi arsitektur gedung teater modern bersamaan dengan pembukaan Gedung Teater Wagner di Bayreuth (Jerman). Arsitek Inggris itu mengatakan bahwa gedung ini menandai sebuah permulaan arsitektur gedung teater modern. Pada masa itu, pertama kalinya tradisi dalam arsitektur gedung teater mengalami perubahan-perubahan.

Tantangan menarik ini diciptakan oleh Wilhelm Richard Wagner (1813-1883) sebagai sebuah hasil dari gagasan radikalnya tentang mendekatkan aktor dan penonton dalam satu kesatuan. Wagner’s Gesamtkunswerk (gagasan seni total Wagner) sangat kuat mempengaruhi seni teater pada awal abad ke-20. Salah satu seniman teater terkemuka yang memiliki pengaruh besar dari Wagner adalah Adolphe Appia (1862-1928). Teaterawan Swiss ini adalah salah satu pelopor seni tata panggung modern. Karya dan gagasan seni Wagner memberi inspirasi sekaligus membangkitkan ketidakpuasan dalam diri Appia.

Appia pun memutuskan mereformasi produksi teater. Hingga akhir hidupnya, Appia tidak hanya melakukan perombakan produksi teater, tetapi ia juga melakukan restorasi teater untuk kembali pada masa Yunani kuno. Ia menggambarkan bingkai lengkung di depan panggung proscenium sebagai titik kontak antara dua dunia, yaitu aktor dan penonton.

Appia tidak hanya penentang konsep pemisahan antara penonton dan aktor (panggung dan aktor), tetapi juga pemisahan antar penonton.  Appia berpendapat bahwa Ruang cekungan di depan panggung tempat pemain musik (pit) harus hilang, Panggung beserta auditoriumnya harus satu kesatuan, bingkai (gapura) lengkung pada panggung proscenium (lubang kunci raksasa) harus juga hilang sehingga  memungkinkan interaksi penuh antara audience antara aktor.
                 
Seorang penulis Perancis bernama Bablet memiliki pendapat menarik soal Appia. Kita berhutang pada Appia untuk segala yang meruntuhkan ruang tradisional, segala yang menyebabkan perkembangan dan menciptakan kedekatan secara fisik dan spiritual antara aktor dan penonton.

Sumber: Photo by Karen Zhao on Unsplash
Appia ingin mewujudkan sebuah gedung teater yang akan memiliki kesesuaian keadaan optik dan akustik. Sebuah gedung yang bisa mengikat ruang pementasan dan auditorium sebagai satu kesatuan. Keseluruhan area gedung seharusnya dirancang sedemikian rupa sehingga hal itu memuaskan kebutuhan secara akustik, optik, dan visual.

Soal gagasan ini, Appia memperjelas bahwa drama dan aksi di dalamnya, tidak hanya mengambil tempat di panggung, tetapi pada saat bersamaan terjadi di ruang imajinasi penonton. Appia menyebut gedung teater yang diperbaharui sebagai Katedral masa depan yang bebas, ruang besar dan bisa berubah.

Gedung teater menjadi sebuang ruang yang seharusnya menerima beragam manifestasi kehidupan sosial dan artistik manusia. Ruang di mana seni drama akan berkembang, dengan atau tanpa penonton. Gedung teater seharusnya tidak memisahkan atau menciptakan hubungan antar personal yang hirarkis. (yem)

sumber: berbagai sumber

Fungsi Teater bagi Kehidupan Manusia

Theatre company YesYesNoNo is committed to live-streaming its show The Accident Did Not Take Place in the near future Teater membantu kita m...