Tampilkan postingan dengan label drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label drama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juli 2020

Profesi

Apa itu Theatre Designer?


Maria Bjornson (949 –  2002) & " Phantom of the Opera" 

Theatre Designer adalah orang yang memiliki peran penting dalam sebuah produksi teate. Dia menentukan kostum pemain, tempat pementasan, dan benda serta property yang digunakan. biasanya disebut Theatre Designer (Desainer Teater). Hingga pertengahan abad ke-20 'dekorasi' adalah istilah umum untuk apa yang dibuat oleh desainer teater di atas panggung. Dalam buku program pertunjukan teater biasanya tertulis designed by (dirancang oleh). Bagi desainer teater modern istilah 'dekorasi' menyiratkan kedangkalan yang tidak selaras dengan bagaimana peran mereka sesungguhnya. Bahkan beberapa merasa bahwa istilah ‘desainer teater' pun tidak cukup menggambarkan pekerjaan mereka dan mereka lebih suka 'scenographer' atau 'perancang pertunjukan’.

Kini, banyak desainer teater menganggap diri mereka sebagai kolaborator bersama dengan sutradara, pemain dan lain-lain yang terlibat dalam menciptakan produksi. Bersamaan dengan perkembangan ini, posisi teks dramatis sebagai pusat penciptaan pertunjukan menghadapi tantangan. Elemen desain mereka sama pentingnya dengan kata-kata atau teks yang diucapkan di atas panggung, atau bahkan dalam beberapa kasus menggantikannya.

Desainer teater akan menganalisis dan menafsirkan teks dramatis. Selain itu, desainer teater juga berpikir tentang kepraktisan suatu produksi, seperti anggaran, lokasi, target penonton, sumber daya yang tersedia, dan kerja sama dengan berbagai pidak. Selain itu, desiner teater dan sutradara menentukan tema apa yang mereka soroti.

Desainer teater juga mempertimbangkan  berbagai faktor. Terutama bagaimana  menciptakan interpretasi visual, spasial atau aural untuk sebuah produksi pertunjukan melalui rancangan mereka. Dalam hal ini termasuk set, kostum dan properti. Kemudian desainer teater harus mengamati transformasi ide-ide dari gambar, diagram atau model skala ke pementasan yang sebenarnya.

Apa yang mereka desain akan mempengaruhi pemahaman penonton. Pertunjukan teater adalah pengalaman indrawi yang melibatkan penglihatan, suara, cahaya, tekstur, waktu, gerakan dan ruang, yang semuanya perlu dipertimbangkan oleh seorang desainer.

Miriam Buether, The Jungle, Playhouse Theatre (2018)

Desainer teater akan menilai struktur dan komposisi rancangannya dan apa yang dapat dikomunikasikan kepada penonton. Komposisi rancangan itu berasal dari kombinasi segala kontribusi, seperti akting, penyutradaraan, pencahayaan, tata suara dan sebagainya. Desainer teater membantu mengatur bagaimana materi sumber disajikan dalam pertunjukan. Bagaimana pertunjuan dibingkai - secara konseptual, ideologis, struktural atau fisik. Apa yang mereka rancang dapat menambahkan lapisan makna, atau menjadi lensa yang bis digunakan untuk melihat kata-kata dan tindakan di atas panggung. (ye)


sumber: https://artsandculture.google.com/exhibit/the-role-of-the-theatre-designer-national-theatre/ygJiY6PZyPRoJw?hl=en

Selasa, 07 Juli 2020

Seni Pertunjukan dan Kenormalan Baru

Teater dan Budaya Digital sebagai Strategi 

Pada tahun 2018 beredar tulisan berjudul Why every theatre needs a digital strategy di situs European Theater Lab. Artikel yang jelas jauh sebelum pandemi ada tersebut ditulis oleh Simon Mellor, Direktur Eksekutif  Seni dan Budaya, Dewan Kesenian Inggris (Arts Council England).

Posisi Arts Council England (ACE) adalah lembaga investasi, pengembangan dan advokasi untuk seni, museum, dan perpustakaan di Inggris. Saat artikel itu ditulis ACR  meminta semua organisasi (seni) yang mengajukan dana rutin tahunan sebesar £ 250.000 (€ 285.000) atau lebih untuk memiliki strategi digital. Tanpa strategi tertulis itu (beserta dengan rencana untuk mengimplementasikannya), tidak ada satupun (organisasi) yang bisa mendapatkan dana dari Dewan Seni.

https://unsplash.com/
ilustrasi dari unsplash.com & flickr.com


ACE melacak bagaimana organisasi seni dan budaya telah mengembangkan penggunaan data dan teknologi baru beberapa tahun belakangan. Survei “budaya digital” tersebut menunjukkan hasil yang mengkhawatirkan di beberapa daerah. Misalnya, sejak 2013 telah terjadi penurunan proporsi organisasi yang melihat teknologi digital sebagai hal yang penting untuk pekerjaan mereka di berbagai bidang seperti kreasi, distribusi, dan pameran. Survei 2017 juga menunjukkan bahwa sebagian besar organisasi seni dan budaya masih tidak menggunakan data untuk tujuan penting seperti memahami audiens dengan melakukan analisis data dan profil.

Mereka kalah bersaing dengan industri hiburan komersial  dalam hal memahami lebih banyak tentang siapa audiens mereka dan berkait konten yang dibutuhkan penonton. Pada  masa menyusutnya dana publik, ACE ingin membantu organisasi-organisai untuk mengambil memanfaatkan keuntungan dari kemajuan teknologi informasi.  ACE berharap mereka memahami lebih banyak tentang audiens mereka, sehingga mereka bisa melakukan pekerjaan (berkaya) lebih inovatif dan relevan, dan membuat mereka bertahan lebih tangguh.

ACE melihat bahwa publik semakin hidup menikmati budaya online . ACE mengkhawatirkan banyak teater kami yang didanai publik akan kehilangan relevansinya,  dan masih terjebak dalam dunia analog yang menjangkau semakin sedikit orang. Itulah sebabnya ACE memutuskan untuk bertindak dan menjadikannya syarat pendanaan organisasi seni harus memanfaatkan strategi digital.

Photo by Lex Aliviado on Unsplashs
 

Selama beberapa tahun ke depan, ACE berharap untuk melihat kemajuan signifikan dalam hal berikut:

  • penggunaan teknologi baru untuk berinovasi dalam praktik artistik, baik online maupun offline;
  • penggunaan teknologi baru untuk membuat, mendistribusikan, dan membagikan karya secara online;
  • pengumpulan, berbagi, dan analisis data untuk membantu meningkatkan pengambilan keputusan, memungkinkan organisasi memiliki posisi tawar lebih tinggi.

Beberapa kelompok teater tempat memang sudah berada pada berbagai tahap perjalanan ke arah budaya digital mereka. Strategi digital yang baik perlu dimulai saat ini dengan tetap berakar pada misi kreatifnya. Ini harus selalu mempertimbangkan bagaimana teknologi baru dapat membantu mencapai tujuan yang lebih luas dan bagaimana kualitas unik dari setiap teater dapat didukung oleh teknologi digital. 



sumber: www.europeantheatrelab.eu

Kamis, 25 Juni 2020

Bertolt Brecht dan Historifikasi


Bertolt Brecht

Peristiwa masa lalu atau dari waktu dan tempat lain yang berjarak dengan penonton masa kini digunakan oleh Brecht. "Pastness" dari peristiwa tersebut harus ditekankan. Penonton harus melihat peristiwa yang dapat mereka identifikasi atau situasi yang terjadi

sesuai dengan situasi mereka.  Mereka harus berpikir itu, jika mereka hidup dalam situasi tersebut, mereka akan berusaha dan mengubahnya. Penonton juga harus memiliki perasaan bahwa perubahan itu mungkin.

Masa lalu harus dijadikan pelajaran agar masyarakat bisa membuat perubahan positif di komunitas mereka.

Penonton juga harus dapat melihat bahwa situasi mereka berbeda sekarang dibandingkan masa lalu. Ini untuk menekankan bahwa perubahan sebenarnya mungkin dan perubahan itu sudah terjadi. Kesalahan yang dibuat dalam produksi karya itu tidak boleh dilakukan oleh para penonton. anggota audiens. Masa lalu harus dijadikan pelajaran agar masyarakat bisa membuat perubahan positif di komunitas mereka.

Mother Courage and Her Children from http://jameskarasreviews.blogspot.com/


Historifikasi juga dapat dilihat sebagai cara untuk menciptakan jarak kritis bagi penonton. Peristiwa-peristiwa “aneh yang sengaja dibuat” kelihatan tidak asing, tetapi ditempatkan di waktu berbeda, adalah cara Brecht mencoba mengurangi reaksi emosional di antara penonton.

Historifikasi adalah istilah yang dapat menyebabkan kebingungan. Hanya karena teksnya menampilkan sesuatu yang terjadi di masa lalu, belum tentu menyiratkan bahwa historifikasi digunakan.(ye)


sumber: EPIC THEATRE AND BRECHT


Kamis, 02 Mei 2019

Listrik, Cahaya, dan Panggung

Photo by LinYongchen on flickr


Dua ahli teori dan perancang gerakan non-ilusionis panggung terkemuka adalah Adolphe Appia (Swiss) dan Edward Gordon Craig (Inggris). Appia menyatakan bahwa tujuan mendasar dari produksi teater adalah kesatuan artistik. Dia menyimpulkan bahwa ada tiga elemen yang saling bertentangan dalam sebuah produksi pementasan teater. Ketiganya adalah aktor (wujud tiga dimensi) yang beracting, set panggung vertikal yang diam, dan lantai horizontal.

Dia juga  mengkategorikan pencahayaan panggung mencakup tiga hal: lampu general atau yang menimbulkan pencahayaan luas; cahaya formatif yang menciptakan bayangan, dan cahaya yang menciptakan efek pada set panggung. Dia berpendapat bahwa teater ilusionis hanya menggunakan yang pertama dan terakhir.

Appia mengusulkan mengganti lukisan pemandangan ilusi dengan struktur tiga dimensi yang dapat diubah tampilannya dengan memvariasikan warna, intensitas, dan arah pencahayaan. Struktur solid, menurut Appia, akan berfungsi untuk menciptakan ikatan antara lantai horizontal dan pemandangan vertikal dan meningkatkan gerakan aktor, yang secara ritmik dikendalikan oleh musik iringan.

Lampu, juga akan berubah sebagai respons terhadap musik, sehingga mencerminkan atau memunculkan perubahan dalam emosi, suasana hati, dan tindakan. Dalam menciptakan sebuah adegan, Appia menganggap cahaya seperti sebuah  musik visual dengan cakupan ekspresi dan intensitas yang sama.

Dari sudut pandang teknis, pemanfaatan tenaga listrik memberi pengaruh besar pada desain panggung dan teknik-teknik produksi pemetasan teater. Pencahayaan panggung yang terencana sebagai lawan dari penerangan panggung biasa,  mampu meningkatkan derajat bentuk seni dan merevolusi dekorasi, desain dan bentuk panggung.

Untuk pertama kalinya sejak teater pindah ke ruang tertutup sejak jaman Renaissance, pencahayaan memadai dan aman menjadi niscaya. Tetapi di luar sekedar fungsi dan keamanan,  media itu mempunyai kelenturan dan kehalusan yang membuatnya menjadi bagian bagian integral efek pemanggungan dan meningkatkan ekspresi visual untuk tujuan artistik.

Di luar pengembangan pencahayaan panggung serta teori dan teknik yang dipelopori oleh Appia dan Craig, listrik memberikan solusi bagi banyak masalah yang muncul sehubungan dengan perubahan (pergantian) adegan dalam pemanggungan.

Photo by Mattias Karlsson on flickr

Tuntutan untuk perubahan yang cepat dari kerumitan set natural bertemu dengan tuntutan untuk “dematerialisasi” panggung. “dematerialisasi” panggung bertujuan agar berjalannya tampilan simbolis satu ke simbolis lain bergerak dengan lancar.

Selain itu, mereka yang ingin melakukan pembaharuan juga menginginkan sebuah perubahan adegan dapat dilakukan secara sederhana dan cepat dalam panggung terbuka.

Penemuan dan instrumen baru yang praktis banyak dirancang dari hasil gagasan para teoritikus. Temuan-temuan yang ada banyak diadaptasi oleh desainer, sutradara, dan insinyur panggung di Barat dan sebagai pusat inovasi terbesar adalah Jerman. (yem)


Kamis, 14 Maret 2019

Dramatic Reading dan Hal-hal Dasar

Dramatic reading pada dasarnya adalah penyampaian tafsir karya seorang pengarang pada pemirsa yang dilakukan dengan membaca dan bukan menghafal. Seorang pembaca mengkomunikasikan makna yang disertai emosi pada pemirsa. Semua itu dilakukan tanpa properti, kostum, tata cahaya, tata suara atau perangkat pendukung pementasan lain. Pembaca mengasumsikan identitas seorang tokoh dan ia memotret aspek-aspek dramatik, seperti fisik dan emosi tokoh bersangkutan dan suasana.
Penyajian sebisa mungkin menghindari penggunaan sound FX atau musik eksternal kecuali sangat dibutuhkan pada bagian-bagian tertentu. Jika ada beberapa tokoh dalam sebuah naskah, maka bisa ditunjukkan oleh perubahan suara, gesture, dan postur untuk masing-masing tokoh. Selain itu perlu diingat bahwa jika ada lebih dari satu pembaca, maka tidak ada kontak fisik dan mata dalam sebuah lakon.

Penafsiran pembacaan mulai dengan sebuah pemahaman bahan-bahan secara baik.
Pembaca perlu melakukan analisa dan study terhadap karya yang ia sudah pilih. Pembaca terus menggali pemikiran apa yang terkandung dalam karya itu. Barulah pembaca bisa mengambil kesimpulan tema dari keseluruhan isi karya itu atau hal dominan apa yang ingin pembaca sampaikan. Pembaca mencoba membayangkan dan memvisualkan setiap kata sehingga semua itu membantu pembaca mengkaitkan pengalaman dan karya yang dibaca.

Pambaca perlu memikirkan apa yang akan menjadi pembuka penyajian.  Pembukaan yang baik bertujuan untuk meraih perhatian pemirsa, membangun panggung untuk pembacaan dan point of view, konteks cerita dan lain sebagainya. Pembaca juga harus menjelaskan pilihan karya yang diambil, judul, dan siapa pengarangnya. Bahkan jika perlu pembaca menjelaskan konteks dan peran setiap tokoh. Pembaca juga tidak lupa membangun transisi yang baik antara bagian (babak) satu dengan yang lain.
Foto: https://www.kotajogja.com/6034/dramatic-reading-teater-gandrik-orde-tabung/
Pembaca yang baik harus memiliki disiplin latihan yang baik. Pembaca melakukan pembacaan karya secara keras untuk kelancaran dan kesinambungan isi cerita. Pembaca bisa menjaga pikiran dan perasaan demi mempertahakan keutuhan cerita. Bila perlu pembaca menghadirkan penonton (walau sedikit) saat dia melakukan latihan membaca cerita.

Suara adalah modal penting bagi seorang pembaca. Ia menciptakan sebuah atmosfer atau konteks cerita dengan suaranya. Agar pembaca membaca naskah secara ekspresif, maka ia menggunakan beragam perangkat vokal. Ia menciptakan perbedaan berbagai karakter, perkembangan aksi, dan indikasi emosi dengan vokal berkualitas. Oleh karena itu, irama, langkah, dan nada termasuk pause dan spasi yang efektif untuk kata-kata perlu menjadi perhatian.(ye)

Fungsi Teater bagi Kehidupan Manusia

Theatre company YesYesNoNo is committed to live-streaming its show The Accident Did Not Take Place in the near future Teater membantu kita m...