Kamis, 02 Mei 2019

Listrik, Cahaya, dan Panggung

Photo by LinYongchen on flickr


Dua ahli teori dan perancang gerakan non-ilusionis panggung terkemuka adalah Adolphe Appia (Swiss) dan Edward Gordon Craig (Inggris). Appia menyatakan bahwa tujuan mendasar dari produksi teater adalah kesatuan artistik. Dia menyimpulkan bahwa ada tiga elemen yang saling bertentangan dalam sebuah produksi pementasan teater. Ketiganya adalah aktor (wujud tiga dimensi) yang beracting, set panggung vertikal yang diam, dan lantai horizontal.

Dia juga  mengkategorikan pencahayaan panggung mencakup tiga hal: lampu general atau yang menimbulkan pencahayaan luas; cahaya formatif yang menciptakan bayangan, dan cahaya yang menciptakan efek pada set panggung. Dia berpendapat bahwa teater ilusionis hanya menggunakan yang pertama dan terakhir.

Appia mengusulkan mengganti lukisan pemandangan ilusi dengan struktur tiga dimensi yang dapat diubah tampilannya dengan memvariasikan warna, intensitas, dan arah pencahayaan. Struktur solid, menurut Appia, akan berfungsi untuk menciptakan ikatan antara lantai horizontal dan pemandangan vertikal dan meningkatkan gerakan aktor, yang secara ritmik dikendalikan oleh musik iringan.

Lampu, juga akan berubah sebagai respons terhadap musik, sehingga mencerminkan atau memunculkan perubahan dalam emosi, suasana hati, dan tindakan. Dalam menciptakan sebuah adegan, Appia menganggap cahaya seperti sebuah  musik visual dengan cakupan ekspresi dan intensitas yang sama.

Dari sudut pandang teknis, pemanfaatan tenaga listrik memberi pengaruh besar pada desain panggung dan teknik-teknik produksi pemetasan teater. Pencahayaan panggung yang terencana sebagai lawan dari penerangan panggung biasa,  mampu meningkatkan derajat bentuk seni dan merevolusi dekorasi, desain dan bentuk panggung.

Untuk pertama kalinya sejak teater pindah ke ruang tertutup sejak jaman Renaissance, pencahayaan memadai dan aman menjadi niscaya. Tetapi di luar sekedar fungsi dan keamanan,  media itu mempunyai kelenturan dan kehalusan yang membuatnya menjadi bagian bagian integral efek pemanggungan dan meningkatkan ekspresi visual untuk tujuan artistik.

Di luar pengembangan pencahayaan panggung serta teori dan teknik yang dipelopori oleh Appia dan Craig, listrik memberikan solusi bagi banyak masalah yang muncul sehubungan dengan perubahan (pergantian) adegan dalam pemanggungan.

Photo by Mattias Karlsson on flickr

Tuntutan untuk perubahan yang cepat dari kerumitan set natural bertemu dengan tuntutan untuk “dematerialisasi” panggung. “dematerialisasi” panggung bertujuan agar berjalannya tampilan simbolis satu ke simbolis lain bergerak dengan lancar.

Selain itu, mereka yang ingin melakukan pembaharuan juga menginginkan sebuah perubahan adegan dapat dilakukan secara sederhana dan cepat dalam panggung terbuka.

Penemuan dan instrumen baru yang praktis banyak dirancang dari hasil gagasan para teoritikus. Temuan-temuan yang ada banyak diadaptasi oleh desainer, sutradara, dan insinyur panggung di Barat dan sebagai pusat inovasi terbesar adalah Jerman. (yem)


Rabu, 10 April 2019

4 Tips Acting yang juga Bermanfaat untuk Kehidupan

Tip-tip berikut tidak hanya untuk aktor kawakan atau pemula. Bahkan Anda  tidak biasa tampil di panggung atau di depan kamera pun bisa menerapkannya. Beberapa aturan untuk acting yang sukses (berdasar tehnik Practical Aesthetics) ini bisa diterapkan untuk meraih kehidupan yang sukses.

Photo by Andrei Lazarev on Unsplash

1. Melampaui kesadaran diri dengan berkonsentrasi pada orang lain

Dalam berbagai tingkatan, semua manusia memiliki kecenderungan memikirkan diri sendiri. Jika kita terlalu asyik pada diri sendiri dan kita hanya fokus pada apa yang orang lain pikirkan tentang kita, maka hal itu bisa mengakibatkan kejengkelan hingga kecemasan yang melumpuhkan. Salah satu aturan dalam seni peran (acting) adalah melepaskan kesadaran diri (self-consciousness) yang mengarah pada perhatian pada diri sendiri. Acting buruk sering terjadi karena aktor tenggelam dalam self-consciousness. Kita bisa mengenali aktor yang hanya peduli dengan penampilan atau ia hanya memamerkan vokalnya. Hal tersebut mengasingkan aktor dari penonton dan aktor kehilangan kredibilitas.

Aktor dapat menghindari jebakan itu dengan jalan ia mengalihkan perhatian pada hal lain. Sebaiknya ia merespon apa yang dia lihat dan fokus pada reaksi rekan main. Sekadang aktor sering lupa bahwa dia sedang acting dengan jalan ia meletakkan semua fokus pada orang lain. Tujuan aktor di atas panggung tercapai, jika ia merespon orang-orang sekitar.

Jika kita sedang melakukan pitching (pengajuan ide) pada klien dalam sebuah pertemuan atau kita membujuk seorang teman, maka kita harus konsentrasi penuh pada orang lain dan kita memperhatikan respon mereka. Hal demikian akan membuat kita tampak lebih baik daripada fokus pada diri sendiri.

2. Fokus pada apa yang Anda bisa kendali, bukan apa yang Anda tidak bisa kendali.

Sekadang orang tidak bisa mengedalikan emosi, tetapi dia bisa mengendalikan tindakan. Meskipun kita khawatir apakah kita bisa atau tidak melakukan pekerjaan saat magang kerja atau bekerja, tetapi kita bisa fokus dengan segala usaha yang kita terapkan. Meskipun para eksekutif tidak dapat mengendalikan perilaku para karyawannya, mereka dapat menetapkan sebuah contoh bagus dan merawat sebuah lingkungan yang baik.

Dalam kelas, Scott Zigler selalu menekankan bahwa “indikasi” adalah sebuah tanda acting buruk. Dalam menyaksikan sebuah pertunjukan, kita bisa sangat mudah mengenali apakah aktor benar-benar marah atau hanya berusaha bertindak marah (“indikasi” marah). Untuk menghindari hal ini, aktor butuh melepaskan diri sendiri dari pikiran bahwa dia membutuhkan melakukan sebuah emosi tertentu. Dia tidak bisa mengendalikan reaksi emosi dan mengatakan pada diri sendiri sendiri bahwa ia “merasa” marah. Hal ini akan terlihat seperti kepura-puraan. Namun, tindakan yang dia ambil dan cara dia merespon pada berbagai karakter (tokoh) ada dalam kendalinya. Hal ini bukan usaha untuk tampil marah, tetapi tindakan dan fokus dia pada karakter (tokoh) di mana dia berinteraksi yang akan menyebabkan dia marah.

3. Temukan hal simpatik tentang tokoh jahat

Sangat perlu untuk memainkan peran tokoh jahat dengan sukses. Jika Anda memerankan tokoh jahat dalam sebuah lakon, maka sangat menarik jika Anda bisa menemukan sesuatu yang simpatik tentang tokoh Anda. Adalah tidak mungkin memainkan sebuah karakter jika Anda hanya melabelinya sebagai orang gila atau jahat. Sebaliknya, Anda harus terhubung dengan karakter yang Anda mainkan dari sudut pandang tokoh itu. Tokoh yang dianggap jahat itu percaya bahwa tindakan-tindakan mereka benar. Bahkan mereka bisa tidak menyadari bahwa mereka salah. Hitler mengira bahwa ia menyelamatkan Jerman.

Photo by Francesco Ungaro from Pexels

4. Bukan apa kata Anda, tetapi bagaimana Anda mengatakannya

Saya sering menjadi frustasi selama latihan ketika saya merasa bahwa dialog pada naskah aneh atau di luar tokoh. Bagaimanapun, aktor yang baik tidak bergantung dan mengandalkan kata-kata dalam naskah. Dialog dalam naskah hanya sarana seorang tokoh mencapai tujuan. Kata-kata tidak sepenting nada suara, perubahan suara, dan bahasa tubuh. Kata-kata “aku cinta padamu,” dapat digunakan pada seseorang dengan makna: “Saya peduli padamu,” atau “Aku berusaha membawamu keluar dari kamar”. Manusia bisa mendeteksi tanda-tanda emosi sekecil apapun –dari suara yang menunjukkan kekhawatiran hingga kecemasan dari pola bernafas seseorang. Kita jangan sampai dikekang oleh naskah, tetapi kita harus menyadari pesan-pesan –tersembunyi di balik kata-kata yang ada.

Dalam kehidupan nyata atau panggung, sangat penting membiarkan kesadaran diri dan fokus pada yang ada di sekeliling kita. Satu kali saat Anda kencan, berhenti berpikir bagaimana penampilan Anda dan fokus pada seseorang yang cantik di depan Anda. Kita tidak dapat mengedalikan apa yang orang lain pikirkan tentang kita, tetapi kita bisa mengendalikan tindakan-tindakan dan respon-respon kita. Anda mungkin berpikir bahwa kehidupan Anda akan lebih baik tanpa rekan kerja atau bos, tetapi cobalah masuki pikirannya dan lihat bagaimana mereka memandang dunia ini. William Shakespeare berkata “Dunia ini panggung sandiwara.” Jika itu masalahanya, maka kita mungkin bisa sebagus aktor di pertunjukan kehidupan besar ini. (ye)

Sumber: https://www.huffpost.com/entry/acting-for-stage-is-actin_b_2846846

Kamis, 14 Maret 2019

Dramatic Reading dan Hal-hal Dasar

Dramatic reading pada dasarnya adalah penyampaian tafsir karya seorang pengarang pada pemirsa yang dilakukan dengan membaca dan bukan menghafal. Seorang pembaca mengkomunikasikan makna yang disertai emosi pada pemirsa. Semua itu dilakukan tanpa properti, kostum, tata cahaya, tata suara atau perangkat pendukung pementasan lain. Pembaca mengasumsikan identitas seorang tokoh dan ia memotret aspek-aspek dramatik, seperti fisik dan emosi tokoh bersangkutan dan suasana.
Penyajian sebisa mungkin menghindari penggunaan sound FX atau musik eksternal kecuali sangat dibutuhkan pada bagian-bagian tertentu. Jika ada beberapa tokoh dalam sebuah naskah, maka bisa ditunjukkan oleh perubahan suara, gesture, dan postur untuk masing-masing tokoh. Selain itu perlu diingat bahwa jika ada lebih dari satu pembaca, maka tidak ada kontak fisik dan mata dalam sebuah lakon.

Penafsiran pembacaan mulai dengan sebuah pemahaman bahan-bahan secara baik.
Pembaca perlu melakukan analisa dan study terhadap karya yang ia sudah pilih. Pembaca terus menggali pemikiran apa yang terkandung dalam karya itu. Barulah pembaca bisa mengambil kesimpulan tema dari keseluruhan isi karya itu atau hal dominan apa yang ingin pembaca sampaikan. Pembaca mencoba membayangkan dan memvisualkan setiap kata sehingga semua itu membantu pembaca mengkaitkan pengalaman dan karya yang dibaca.

Pambaca perlu memikirkan apa yang akan menjadi pembuka penyajian.  Pembukaan yang baik bertujuan untuk meraih perhatian pemirsa, membangun panggung untuk pembacaan dan point of view, konteks cerita dan lain sebagainya. Pembaca juga harus menjelaskan pilihan karya yang diambil, judul, dan siapa pengarangnya. Bahkan jika perlu pembaca menjelaskan konteks dan peran setiap tokoh. Pembaca juga tidak lupa membangun transisi yang baik antara bagian (babak) satu dengan yang lain.
Foto: https://www.kotajogja.com/6034/dramatic-reading-teater-gandrik-orde-tabung/
Pembaca yang baik harus memiliki disiplin latihan yang baik. Pembaca melakukan pembacaan karya secara keras untuk kelancaran dan kesinambungan isi cerita. Pembaca bisa menjaga pikiran dan perasaan demi mempertahakan keutuhan cerita. Bila perlu pembaca menghadirkan penonton (walau sedikit) saat dia melakukan latihan membaca cerita.

Suara adalah modal penting bagi seorang pembaca. Ia menciptakan sebuah atmosfer atau konteks cerita dengan suaranya. Agar pembaca membaca naskah secara ekspresif, maka ia menggunakan beragam perangkat vokal. Ia menciptakan perbedaan berbagai karakter, perkembangan aksi, dan indikasi emosi dengan vokal berkualitas. Oleh karena itu, irama, langkah, dan nada termasuk pause dan spasi yang efektif untuk kata-kata perlu menjadi perhatian.(ye)

Kamis, 04 Oktober 2018

KAMPUNG SENI NGINGAS #2




Sama seperti halnya KSN #1, Kampung Seni Ngingas #2 ini digelar karena kecintaan warga dusun Ngingas dengan kesenian terutama seni tradisi. Bahkan di dusun ngingas sendiri telah lama memiliki beberapa grup kesenian yang bernafaskan tradisi yakni Sanggar Jaranan Turonggo Putro Setyo Budoyo, Grup Mocopat dan Karawitan, Grup Leang-leong, dan Sanggar Seni Gedhang Godhog yang bergerak di bidang kentrung dan teater (+ sekarang sastra dan tari)

Gagasan tema KSN 2 "luapan rasa kaum pecinta dongeng" ini tercetus karena memang Sanggar Seni Gedhang Godhog (yg masih dipercaya sebagai konseptor acara) sangat akrab dengan dongeng,,,

dan kami merasa budaya mendongeng di masyarakat semakin pudar, padahal pesan moral di dalam dongeng, baik dongeng jawa/kuno, maupun dongeng2 anak (kancil, dll) masih sangat dibutuhkan untuk menangkal pengaruh buruk globalisasi yg menggerogoti mental anak dan remaja.



Harapan kami, dengan pentas dongeng, lomba dongeng, dan sarasehan budaya bertema dongeng yg kami gelar ini mampu memupuk kembali budaya mendongeng di masyarakat. paling tidak di skup wilayah kecil dusun kami tercinta ini.

kontak: Yayak Priasmara; FB: Yayak Gedhang Priasmara; IG: y_priasmara



Selasa, 28 Agustus 2018

TEATER AMATIR VS TEATER PROFESIONAL

sumber: www.flickr.com/photos/152722188@N06/33377330235/in/photostream/
Perdebatan antara pengusung semangat teater professional dan teater amatir menggema pada tahun 1917 di Amerika Serikat. Kelompok amatir melontarkan kritik mereka pada kelompok profesional: Mereka menganggap kelompok profesional terlalu komersial sehingga kehilangan idealism.

Oleh karena itu, mereka (kubu amatir) melontarkan seruan dan gerakan demi membangun “kemurnian” dan “kesucian” teater. Tulisan berjudul What We Stand For di Theater Arts Magazine Volume 1 No. 4, Agustus 1917 mengungkap hal itu.

Gerakan itu memperjuangkan penciptaan sebuah teater baru di Amerika Serikat. Sebuah teater di mana seni dan bukan bisnis yang jadi pertimbangan utama. Mereka mendorong munculnya kelompok-kelompok eksperimental. Di satu sisi, mereka juga mendorong proses profesionalisme secara bertahap bagi kelompok-kelompok teater kecil dan rumah-rumah pertunjukan besar.

Mereka ingin mewujudkan sebuah bentuk profesionalisme baru, di mana semangat amatir bisa dikombinasikan dengan dengan pengalaman mumpuni dari teater-teater mapan (yang juga memiliki rumah-rumah pertunjukan).

Gerakan ini mendorong para amatir, sekaligus kelompok-kelompok professional. Kelompok terakhir ini diharapkan memperbaharui konvensi-konvensi yang berlaku di gedung-gedung mereka, di mana mereka dianggap telah kehilangan arah akibat komersialisasi.

Gerakan ini memperjuangkan sebuah sudut pandang baru dalam pengembangan seni teater. Naskah-naskah lakon yang bagus, atau acting yang menginspirasi, atau setting yang bagus seharusnya tidak berhenti bagi masing-masing kubu. Sebalikna semua itu menjadi kontribusi untuk kesatuan yang lebih besar. Sebuah perpaduan atau harmoni dari bentuk-bentuk seni teater untuk menjadi suatu bentuk baru.

Oleh karena itu, demi pengembangan seni yang lebih baik semacam itu, jikalau perlu harus dibangun sebuah komunitas  artis-sutradara yang baru. Jika perlu ada perjuangan  penghilangan sistem bintang dalam acting, dan bagi pergantian (pertukaran) unsur-unsur yang sebelumnya sudah dianggap ideal.

Gerakan ini juga memperjuangkan agar aktor tidak merasakan tekanan  yang disebabkan serangkaian pertunjukan yang panjang. Sementara pada sisi lain, ada upaya perbaikan keindahan dialog dan ritme gerakan sebagai bagian penting dari kontribusi aktor bagi kesatuan yang lebih besar.

sumber: https://www.flickr.com/photos/chengyi-lee/32925048941/

Gerakan ini memperjuangkan bagi bentuk pemanggungan yang sederhana, pantas dan dekoratif. Bagaimanapun setting panggung harus menjadi yang utama dari tatanan background sebuah lakon pertunjukan, karena dia juga memiliki keindahan tersendiri.

Pengembangan sebuah tata rupa panggung baru perlu dilakukan, seperti pemanfaatan bahan-bahan plastik, memuncullkan efek dekoratif melalui pemanfaatan garis dan tumpukan benda yang sugestif, pencahayaan dan bayangan, keharmonisan warna, dan gerakan yang dirancang.

Upaya pengembangan sebuah tubuh drama yang puitis baru juga harus ada. Pengertiannya meskipun ada kandungan bahasa puisi dalam drama, tetapi tidak terlepas dari konteks dunia hari ini. Ekspresi musikal tetap ada  tetapi tidak meminjam dan menggunakan bentuk-bentuk di masa lalu. 

Dan, akhirnya, gerakan ini memperjuangkan garis batas yang jelas antara sebuah teater komersial dan sebuah teater professional baru.(ye)

Selasa, 10 Juli 2018

AHLI DRAMA DAN DRAMATURGI

Photo by Demarquet Geoffroy on www.flickr.com

Dramaturgi dapat juga secara luas diartikan sebagai “pengadaptasian sebuah cerita  untuk bisa dipentaskan di atas panggung.” Ahli dramaturgi memberi sebuah kerangka dan dasar bagi sebuah karya pertunjukan. Ahli dramaturgi sering melakukan strategi untuk memanipulasi sebuah narasi sehingga karya bisa merefleksikan sebuah semangat jaman melalui tanda-tanda lintas budaya, genre, ideologi, keterwakilan gender dan lain-lain dalam dramatisasi.

Istilah Dramaturgi 
Dramaturgi dalam bahasa Yunani artinya menulis sebuah drama. Kini kata itu lebih mengarah pada makna studi tentang komposisi dramatik dan penggambaran dari elemen-elemen utama drama di atas panggung. Istilah itu pertama kali muncul dalam karya Gotthold Ephraim Lessing berjudul Hamburg Dramaturgy (1767-69).

Lessing menyusun koleksi esai tentang prinsip-prinsip drama ketika ia bekerja sebagai ahli dramaturgi di Hamburg National Theatre. Dramaturgi berbeda dengan naskah lakon dan penyutradaraan, meskipun ketiganya dapat dilakukan oleh satu orang.
Beberapa dramawan mengkombinasikan penulisan dan dramaturgi ketika menciptakan sebuah karya. Sebagian lagi mengundang seorang ahli dramaturgi, yang dalam istilah lain disebut dramaturg untuk mengadapatasi karya di atas panggung.

Siapapun Bisa Disebut Ahli Dramaturgi
Sebenarnya siapapun bisa bertindak ahli dramaturgi. Bahkan kita semua mungkin tanpa sadar telah mempraktekannya (sebaga ahli dramaturgi). Karena jika seseorang melakukan kegiatan-kegiatan lebih dari satu peran kreatif, maka dia bisa disebut sebagai ahli dramaturgi.

Hal itu seperti sebuah proses peragian anggur menjadi minuman yang berkualitas. Orang bersangkutan setelah  melalui peragian (fermentasi) bertahun-tahun akan hadir dari dirinya pengetahuan dan pengalaman. Wujudnya akan tampak melalui hasil-hasil karyanya.  Sebuah karya bertumbuh bersama orang bersangkutan sebagai penciptanya.

Seseorang yang menyutrdarai karyanya sendiri juga memiliki peran sebagai ahli dramaturgi karena dia tahu bagaimana melakukan riset kontekstual bagi karyanya. Dia sangat berperan dalam memahami bagaimana karyanya dapat menjangkau penonton lebih luas.

Tetapi agar ia bisa memberikan apa yang layak bagi karya, dia harus membuka pintu diri. Mereka yang mengambil jarak dari niat pribadi dapat membuka kesempatan bagi sebuah dunia kemungkinan tanpa batas secara dramaturgi.

Mengambil jarak dari sebuah karya bukan sesuatu yang buruk. Sebaliknya bisa membuat seseorang menemukan jantung pertunjukannya.

Photo by Rich Smith on www.flickr.com


Multi Peran
Seseorang sebagai ahli dramaturgi juga memiliki peran seperti DSM (Deputy Stage Manager). Sebuah peran yang biasanya ada dalam produksi teater di Eropa dan Amerika. Dia akan menutun proses sebuah lakon secara teknis. Seseorang sebagai ahli dramaturgi adalah juga anggota penonton, yang berada di gedung teater dan secara aktif memasuki sebuah negosisasi untuk memahami sebuah dunia di mana lakon berlangsung dan secara konsekuen menganalisa elemen-elemen dramaturgi di belakangnya.

Pendapat bahwa setiap orang adalah ahli dramaturgi karena dunia pertunjukan dilaksanakan secara dramaturgi. Dengan demikian, seorang ahli dramaturgi telah mengambil waktu untuk membenamkan diri ke dalam riset lakon secara kontekstual.

Sebuah proses pertunjukan (teater) adalah sebuah lingkaran orang-orang kreatif  yang saling berkait secara aktif dalam kerangka kerja hingga akhir (pertunjukan).

Sehingga adalah sangat penting bagi setiap orang memiliki selera (rasa) pada pada sebuah proses produksi yang merupakan karya bersama.  Semua itu bertujuan untuk meraih sebuah pemahaman lebih baik berkaitan dengan teater.

Hal itu dapat meningkatkan pengetahuan sesuai peran yang kita miliki. Siapapun yang terlibat dalam karya teater bukan sekedar "pembuat teater." Seorang drawamawan menganggap istilah itu sebagai istilah berbau kemalasan dari kebersediaan menegaskan tanggung jawab yang jelas dari peran mereka.(ye)

source: dari berbagai sumber

Kamis, 03 Mei 2018

8 JENIS BAHASA TUBUH YANG PERLU DIKETAHUI PENULIS NASKAH DRAMA PEMULA

sumber: https://flickr.com
Semua bahasa tubuh harus memiliki kesesuaian dengan konteks. Untuk membangun adegan dan menciptakan tokoh, seorang penulis naskah perlu memiliki pengetahuan tentang jenis-jenis bahasa tubuh. Ini adalah beberapa bahasa tubuh untuk melengkapi bahasa ucap:

1. MARAH
Marah adalah salah satu ekspresi perlawanan (fight mode) sebagai wujud reaksi otomatis, secara insting terhadap sebuah ancaman. Pada beberapa kasus, ada kekhawatiran pada kerusakan menjadi dasar kemarahan. Syukurnya ada  gairah sistem saraf otonom, detak jantung meningkat, mata terbelalak dan muka menjadi merah. Tanda-tanda lain kemarahan:
-      Mengepalkan tangan
-      Menyilangkan lengan dengan erat
-      Mengepalkan tinju begitu tangan disilangkan
-      Senyum dengan dua bibi terkatup
-      Mengatupkan gigi
-      Menggoyangkan-goyangkan jari seperti tongkat
-      Mengarahkan jari ke arah seseorang


2. DISTRESS (Tertekan)
-        Laki-laki cenderung menggosok atau mengelus leher ketika mereka gelisah. Tindakan ini seolah-olah ia sedang mengatasi “sakit di leher,”
-       Menyilangkan lengan. Kedua lengan seolah menjadi pembatas yang melindunginya.
-       Memeluk diri sendiri-kedua lengan bersilang, kedua tangan mencengkeram kedua lengan bagian atas.
-       Satu lengan menyilang –satu lengan menyilang tubuh untuk memegang atau menyentuh lengan lainnya- perempuan memegang dompet atau tali tas untuk membuatnya tampak biasa-
-       Memeluk erat dompet, tas kerja, atau tas dengan kedua lengan
-       Bagi laki-laki ia Membenahi atau menyesuaikan manset
-       Melipat kedua tangan di depan selangkangan (Laki-laki)
  
3. DAYA TARIK (Attraction)
-      Mata membelalak
-      Para wanita akan menyilangkan atau membuka kaki untuk menarik perhatian
-      Melakukan peniruan bahasa tubuh orang lain (biasanya dilakukan tanpa sadar).

4. BERDUSTA
-       Berbohong menyebabkan kesemutan halus di wajah dan leher, sehingga gesture-gestur di bawah ini berupaya untuk menghilangkan perasaan itu:
-       Menutup mulut –seperti tindakan ssttt, atau mereka dapat menutup mulut rapat-rapat- beberapa orang berupaya menutupi hal demikian dengan batuk.
-       Menyentuh atau menggaruk hidung atau hanya bagian bawah hidung –sering gesture kecil dan cepat, tetapi bukan menggaruk.
-       Mengucek mata (khususnya laki-laki)
-       Menggaruk leher dengan jari telunjuk

5. KETERBUKAAN DAN KEJUJURAN
-      Membuka kedua telapak tangan
-      Kedua lengan dan kaki terbuka
-      Tubuh condong ke depan
 
sumber: https://flickr.com
6. SUPERIORITAS, KEPERCAYAAN DIRI, KEKUATAN,  dan KEKUASAAN
-      Ujung-ujung jari dari kedua tangan
-      Melipat tangan di punggung
-       Kedua jempol mencuat dari saku sementara jari-jari lain berada di dalam saku (bisa juga di saku belakang)
-       Kedua tangan di pinggang
-       Kedua tangan terlipat di belakang kepala ketika duduk bersandar (cowok), pada wanita biasanya membusungkan dada dan menjadi kelihatan. sensual.

7. TERTUTUP UNTUK PERCAKAPAN
-      Memasukkan kedua tangan di saku (cowok)
-      Kedua lengan dan kaki menyilang
-      Duduk bersandar
-      Melipat kedua tangan bersama-sama di atas meja (menciptakan sebuah pertahanan)
-      “Figure-four” menyilangkan kaki (meletakkan ankle salah satu kaki di atas lutut kaki yang lain) dan kemudian merengkuh setengah dari bagian atas kaki dengan kedua tangan.

8. TANDA-TANDA KEPATUHAN (TUNDUK)
-       Senyum (itu mengapa sebagian orang tersenyum ketika mereka khawatir atau takut).
-       Mengendurkan kedua bahu.
-        Melakukan hal-hal untuk menunjukkan betapa ia lebih rendah (kecil)

sumber: “Body Language Cheat Sheet for Writers” di situs ArchetypeWrting.coms

Fungsi Teater bagi Kehidupan Manusia

Theatre company YesYesNoNo is committed to live-streaming its show The Accident Did Not Take Place in the near future Teater membantu kita m...